KARAKTERISTIK MITRA DAKWAH (Kitab al-Usul ad-Da’wah karya Abdul Karim Zaidan)

Siapakah Mitra Dakwah itu? 

Mitra dakwah ialah seluruh umat manusia yang diajak ke jalan Allah swt, sebab agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad merupakan agama yang kekal (terakhir). Allah mengutus Nabi Muhammad saw untuk seluruh umat manusia. “Katakanlah, wahai manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullah untuk kamu sekalian” (QS. Al-A’raf; 157). “Dan tidak kami utus engkau melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan.” (QS. As-Saba’; 26).

Mitra dakwah itu umum, seluruh umat manusia, dan tidak terbatas atau tidak terkecuali siapa pun. Seluruh manusia yang berbicara tentang Islam, diharuskan untuk mempercayai dan mematuhi selama dia mukallaf, baligh (dewasa), berakal, tidak peduli jenis, golongan (kelompok), warna kulit, profesi, wilayah, laki-laki, perempuan atau sebaliknya dari perbedaan antar manusia. Seperti contoh orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw, yakni bangsa Arab seperti Abu Bakar, orang Negro seperti Bilal, orang Romawi seperti Suhaib, orang Farsi seperti Sulaiman, wanita seperti Khadijah, anak-anak seperti Ali bin Abi Thalib, orang kaya seperti Ustman bin Affan, dan orang tidak mampu seperti Umar.

Setiap juru dakwah harus memahami dakwahnya dan berusaha dalam menyampaikannya kepada seluruh umat manusia. Akan tetapi, hal itu tidak boleh bertentangan dengan dimulainya dakwah, yakni dari kaum terdekat (keluarga), kemudian juru dakwah mengambil mitra dakwah yang jauh. Di dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Dan berilah peringatan kepada kaum yang terdekat (keluarga).”  (QS. Asy-Syu’ara; 214).

“Hidarkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Yang dimaksud dari menghindarkan keluarga dari api neraka ialah dengan mengajak ke agama Islam, menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.  

Hak-Hak Mitra Dakwah 

Hak sebagai mitra dakwah yakni ditemui dan diajak. Artinya, seorang dai harus datang menemui dan mengajak mereka ke jalan Allah. Pendakwah tidak boleh hanya diam duduk di rumahnya atau menanti kedatangan mereka. Itulah yang paling utama yang dilakukan oleh Rasulullah saw, beliau mendatangi kaum Quraisy dan mengajak mereka (agar menerima Islam), Rasulullah saw pergi ke luar kota untuk menemui suku-suku di tempat perkemahan mereka pada musim haji, Rasulullah saw juga pergi menemui dan berdakwah kepada setiap orang yang datang ke Makkah.

Dalam berdakwah, pendakwah hendaknya meniru jejak Rasulullah saw, dengan mengunjungi tempat-tempat dan desa-desa mitra dakwahnya. Alangkah baiknya jika para pendakwah selalu bertebaran di setiap lorong desa untuk menyampaikan dakwahnya.

Jangan Menghina Orang

Seorang pendakwah tidak boleh menganggap sepele keadaan siapa pun atau menghina orang lain kemudian tidak mengajaknya kepada kebaikan/tidak menyampaikan dakwah kepadanya, karena di antara hak seluruh manusia itu ialah menerima ajakan kebaikan/didakwahi. Terkadang hal yang tidak dilakukan seorang pendakwah akan menjadi beban baginya bahkan merupakan beban berat baginya di hadapan Allah swt untuk pengabdiannya (da'i) menyebarkan dan menolong agama Allah dan menyuruh manusia kepada agama Allah.

Kewajiban Mitra Dakwah

Mitra dakwah berkewajiban untuk memenuhi seruan, ajakan, dan memperkenankan dakwah. Sebab pendakwah mengajak pada kebaikan dan kebenaran. Akan tetapi, sikap manusia berbeda-beda dalam menanggapi dakwah. Ada yang cepat menerima kebenaran, ada pula yang lamban, ada juga di antara mereka. 

Setelah mendapatkan petunjuk untuk menerima Islam, kewajiban mitra dakwah juga harus menunaikan apa yang diperintahkan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya menyembah Allah swt sesuai dengan perintah di Al-Qur’an dan hadits, sehingga dalam menjalankan perintah-Nya tidak ada yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.


GOLONGAN MITRA DAKWAH



Di setiap kelompok masyarakat selalu ada seorang pemimpin yang mempunyai kekuasaan yang berpenguh terhadap masyarakat. Merekalah kelompok penerima dakwah yang disebut dalam Al-Quran sebagai Al-Mala’ (kaum elit). Ada pula kelompok masyarakat pada umumnya (orang biasa) yang dipimpinnya atau yang di bawah pengaruh mereka. Kelompok ini termasuk golongan kedua penerima dakwah. Golongan ini mudah menerima Islam, dan Islam berkembang di hatinya sehingga mereka menjadi orang-orang yang beriman.

Golongan penerima dakwah yang ketiga ini, mereka yang hanya memamerkan keimanannya karena riya’ atau nifaq, merekalah orang-orang yang munafik. Terakhir, orang yang menerima Islam namun ke-Islamannya masih lemah, belum menguasai jiwanya, sehingga mereka tergelincir pada kemaksiatan. Mereka lah kelompok keempat penerima dakwah, yakni orang-orang yang maksiat. Berikut pemamarannya:

1. Kelompok Kaum Elit (Penguasa)

Menurut para ahli tafsir, orang-orang elit itu disebut juga sebagai orang-orang yang mengawasi seperti pemimpin, kepala-kepala, dan orang-orang besar (bangsawan). Merekalah orang-orang yang menonjol dalam suatu kelompok dan kerabatnya, mereka mempunyai kekuasaan dan dianggap sebagai penguasa atau pemimpin.

Penguasa dan Dakwah

Sifat mayoritas para penguasa di setiap kaumnya yakni ini selalu menentang ajakan (dakwah) kepada Allah swt dan menolak ajakan Rasulullah saw menuju Allah swt. Mereka itulah yang memimpin perlawanan, mengutuk ajakan kepada Allah swt, mereka juga berbohong, memfitnah, tuduhan-tuduhan palsu, bahkan mereka menuduh Rasulullah itu sesat. Allah berfirman:

“Tatkala kami utus penasihat-penasihat (rasul) ke dalam sebuah negeri, berkata orang-orang kayanya: “Kami ingkar akan apa-apa yang kamu bawa itu.” Dan lagi katanya, “kami mempunyai harta dan anak terlebih banyak dari padamu, sebab itu tiadalah kami akan disiksa.” (QS. Saba’; 35-36).

Dalam ayat tersebut, Allah swt menghibur Nabi-Nya seraya memerintahkan kepadanya agar mengambil pelajaran dari para rasul yang telah mendahuluinya, dan Allah memberitahukan kepadanya bahwa tidak sekali-sekali Dia mengutus seorang nabi ke suatu penduduk negeri, melainkan penduduk negeri itu mendustakannya. (Tafsir Ibnu Katsir, III/540).

Allah swt berfirman tentang Nabi Nuh: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata".

Kaum elit menentang dakwah Nabi Nuh dengan mengatakan bahwa Nabi Nuh dalam kesesatan yang nyata. Inilah sifat yang paling jahat untuk menghalangi dakwah, yakni dengan menyatakan yang benar itu salah dan sesat.

Kaum penguasa Quraisy pun memiliki sifat yang sama dalam menghadapi dakwah Rasulullah saw. Mereka melemparkan tuduhan palsu bahkan kadang mengganggu Rasulullah dalam melaksanakan dakwahnya.

Sebab-sebab Permusuhan Kaum Elit dalam Ajakan Menuju Allah. 


           i.         Sombong


Sombong merupakan perbuatan tercela dan penyakit kronis yang menetap di dalam hati namun pengaruhnya dapat terlihat dalam bentuk sikap atau perbuatannya. Pada intinya, orang sombong tidak mau menerima kebenaran dan tidak mau mengakui kelebihan orang yang berbuat baik. Mereka menganggap diri mereka lebih baik, sehingga tidak mau bersama-sama dan mengikuti orang lain.

Terkadang, sifat sombong juga diikuti dengan iri, maka bertambahlah sifat buruknya, terlindung dari kebenaran dan ingin memusuhi orang lain. Allah berfirman.

“Dan mereka mengingkarinya karena kedzaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini kebenarannya.” (QS. An-Naml; 14). Fir’aun dan kaumnya mengingkari kenabian Nabi Musa namun jiwa mereka meyakininya. Sifat sombong kepada Nabi Musa inilah yang menyebabkan mereka ingkar.

         ii.         Cinta Kekuasaan dan Kemegahan

Kaum elit mencintai kekuasaan dan kemegahan dan ingin menguasai banyak orang, maka dari itu, mereka menentang setiap ajakan (dakwah). Mereka menganggap hal tersebut dapat menghapus kedudukan mereka di tengah-tengah masyarakat. Mereka tidak mau dianggap seperti orang lain. Mereka menanggap dengan menerima ajakan untuk menyembah Allah, maka kekuasaan dan kemegahan mereka akan lenyap. Dalam kisah Nabi Nuh Allah berfirman:

“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” (QS. Al-Mu’minun; 24).

Dijelaskan, untuk mempertahankan kekuasaan mereka, para pemuka mengatakan kepada kaumnya: Sesungguhnya Nuh itu dengan dakwahnya ingin menguasai dan memimpin kalian semua. Para pemuka ini ingin tetap berkuasa dan mencegah orang-orang dari ajakan Nabi Nuh. Pada hakikatnya, Rasulullah saw tidak ingin menjadi orang yang  berkuasa, namun hanya ingin berdakwah dan menjadi pemimpin (dalam dakwahnya), sedangkan para pemimpin tetap berkuasa, akan tetapi bentuk kepemimpinan Rasulullah saw dalam berdakwah tidak sama seperti orang-orang sombong. 

       iii.         Ketidaktahuan

Kaum elit tenggelam dalam ketidaktahuan (kebodohan), mereka sendiri tidak sadar akan hal itu. Merekalah orang yang tidak percaya pada Tuhannya. Mereka menolak dakwah Rasulullah saw, bahkan Rasulullah dituduh sesat, bodoh, dan mempunyai fikiran yang lemah, mereka melemparkan alasan-alasan palsu seperti mengatakan Rasulullah saw hanyalah manusia. Para kaum elit beranggapan merekalah yang pantas menerima wahyu dan risalah, karena harta, keluarga mereka banyak. Mereka anggap Rasul mencoba menjauhkan mereka dari agama nenek moyang.

Kaum elit juga mengolok-olok orang yang beriman dengan tuduhan tidak berilmu, maka dari itu mereka (orang-orang beriman) mengikuti ajakan ke jalan Allah dan Rasulullah saw tanpa mengamati dan menyaring terlebih dahulu. Para kaum elit tidak akan berbuat demikian karena mereka menganggap diri mereka berkuasa, mengawasi, memahami, bijaksana dan berfikir (berilmu pengetahuan).

Allah berfirman: “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (QS. Hud: 27). 

Mereka berkata kepada Nabi Nuh: engkau bukan malaikat, bahkan hanya manusia biasa, bagaimana wahyu bisa sampai kepadamu? Kemudian kami tidak melihat pengikutmu kecuali mereka yang rendah, tidak ada orang-orang yang mulia dan pembesar seperti kamu di antara pengikutmu. Semua tuduhan itu menunjukkan kebodohan mereka, jika mereka mau berfikir niscaya mereka akan mengakui dan mengetahui bahwa rasul itu manusia, sehingga bisa berbicara dengan mereka dan apa yang disampaikan dapat dipahami.
Sifat Kaum Elit Pada Setiap Tempat dan Waktu itu Sama

Sifat dan akhlak kaum elit yang telah diterangkan di Al-Qur’an Al-Karim yang ada di setiap masyarakat, di setiap waktu dan tempat itu sama. Oleh karena itu, pertama mereka menentang dan berusaha menghalangi setiap ajakan ke jalan Allah, dengan dorongan perasaan sombong, cinta kedudukan dan kekuasaan, sehingga timbul rasa takut dalam diri mereka jika dakwah itu berhasil, maka kekuasaan dan kedudukan mereka itu hilang. Di setiap waktu dan tempat mereka selalu berusaha menentang dakwah, meski dakwah itu membawa kebaikan dan mempererat hubungan dengan Tuhannya.

2. Kelompok Mayoritas Manusia

Yang dimaksud dengan mayoritas manusia adalah orang banyak (publik), sebab kata ‘Jumhur’ diartikan ‘semua yang paling banyak’, akan tetapi kaum elit tidak masuk dalam golongan ini, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Kelompok mayoritas ini merupakan pengikut kaum elit/para penguasa. Mereka terdiri dari orang-orang tidak mampu, lemah, yang memiliki pekerjaan yang berbeda-beda. 

Kaum Mayoritas Lebih Cepat Menerima Dakwah 

Kaum mayoritas ini lebih cepat menerima kebenaran dan mengikuti Rasulullah saw dibanding kaum yang lain. Mereka percaya dan beriman terlebih dahulu kepada para rasul.

Herkules bertanya kepada Abu Sofyan saat mereka bertemu di Syam, Herkules mendengar bahwa dia (Abu Sofyan) berasal dari Makkah, maka Herkules bertanya tentang kabar Rasulullah saw. “Apakah yang mengikutinya terdiri dari orang-orang terhormat atau orang-orang yang lemah?” Abu Sofyan menjawab: “Bahkan orang yang lemah”. Herkules menjawab: “Kalau demikian mereka itu pengikut Rasul.”

Yang menjadi pengikut Rasulullah saw adalah orang biasa saja seperti yang telah dibahas tentang tanggapan kaum elit terhadap Nabi Nuh. Mereka berkata “dan tiada kami lihat orang yang mengikuti engkau melainkan orang hina.”

Penjelasan Cepatnya Kaum Mayoritas Menerima Kebenaran

Kelompok mayoritas lebih cepat menerima ajakan ke jalan Allah sebab mereka tidak mempunyai sifat seperti para kaum elit yang terlalu cinta dengan kekuasaan yang menyebabkan mereka sombong. Penjelasan Al-Qurthubi dalam tafsirnya:

“Sebenarnya kesombongan dan cinta kekuasaan, tenggelam dalam kemewahan itu tidak dapat dipisahkan dari sifat kaum elit, oleh karena itu setiap usaha untuk menghapusnya akan sulit dan seterusnya, menyebabkan mereka tidak mau menerima kebenaran karena mata hatinya tertutup, sehingga terdorong untuk memusuhi kebenaran.”

Kemungkinan Kaum Mayoritas Terpengaruh oleh Kaum Elit

Meskipun kaum mayoritas cepat menerima kebenaran disbanding golongan yang lain, dan peluang untuk beriman lebih besar sebab mereka yang suci dan bersih, namun kemungkinan mereka dapat terpengaruhi dan tertipu karena janji dan bujukan kaum elit, sehingga mereka mengikuti kesesatan dan kebohongan seperti kaum Fir’aun. Allah swt berfirman:

“Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf; 54).

Dalam tafsir Ibnu Katsir yang dimaksud dengan mempengaruhi adalah mempengaruhi akal mereka untuk diajak pada kesesatan sehingga mereka mengikutinya.

Tampak di tangan Fir’aun ada segala-galanya, di tangannya kekuasaan, pengikut yang banyak, harta kekayaan, jiwa kaumnya kosong dari ilmu pengetahuan, petunjuk, pikiran, maka mudahlah mereka terjerumus ke dalam tipuan dan menolak ajakan Nabi Musa as.

Mengapa Kelompok Mayoritas Terpengaruh oleh Kaum Elit?


      i.          Takut
Di tangan pemimpin yang kafir ada kekuasaan, kekuatan, harta kekayaan, yang dapat digunakan untuk menakuti/membujuk orang. Rasa takut ini dapat menjadikan kelompok mayoritas menjadi putus asa untuk menyelamatkan diri mereka dari penganiayaan.
     ii.          Bujukan Harta dan Kenikmatan Dunia. 
Kaum elit mempunyai itu semua dan memberikannya kepada kelompok mayoritas sehingga banyak orang yang tunduk. 
   iii.         Keraguan
Kaum elit tidak cukup dengan menggunakan kekuasaannya dalam menghalangi kelompok mayoritas untuk mengikuti kebenaran, mereka juga menyebarkan isu-isu yang membuat mereka ragu. Bentuknya banyak, kadang mereka melempar tuduhan bahwa pendakwah orang yang gila, sesat, dan berbahasa kasar (nakal).

3. Golongan Orang Munafik

Golongan mitra dakwah yang ketiga yakni orang munafik. Munafik dalam istilah syariat merupakan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang terpendam dalam hati. Jika sesuatu yang disembunyikannya itu kebohongan dengan dasar iman, maka hal itu dinamakan munafik murni/asli. Kedudukan orang tersebut di hari kiamat akan dihukum sama seperti orang kafir bahkan disiksa melebihi dari orang kafir. Orang-orang munafik itu menipu dengan berpura-pura beriman. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang yang munafik itu ditempatkan pada derajat yang paling bawah di neraka.” (QS. An-Nisa; 145)

Jika yang disembunyikan itu bukan kekafiran kepada Allah, kitab-Nya, dan Rasul-Nya, maka perbuatan itu hanya dianggap suatu kemaksiatan saja.

Di Manakah Orang-orang Munafik itu?

Ketika ajakan kepada Allah swt mulai tersebar di masyarakat kafir dan umat manusia masuk ke dalam agama Allah, kekuasaan orang kafir sedikit demi sedikit hilang, kekuasaan pun berpindah ke tangan umat Islam. Waktu inilah muncul orang-orang munafik, yang tidak menyatakan imannya bersama orang yang beriman dan tidak bertahan dalam kekafiran secara jelas, karena takut kepada umat Islam.

Dasar Kemunafikan

Dasar kemunafikan yakni kekafiran dan pengecut. Orang kafir yakni yang menyembunyikan kekufurannya, ada pun pengecut yakni yang menjadikan orang-orang munafik untuk berbohong dari apa yang di dalam hatinya tentang kekafiran. Maka tidak ada yang menjadi orang munafik kecuali orang yang pengecut, yang semangatnya lemah, dan selalu mengadakan pertentangan secara sembunyi-sembunyi. Ketika mereka bertemu dengan orang beriman, mereka berpura-pura beriman dan mengatakan:

Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (QS. Al-Baqarah; 14).

Orang Munafik Lebih Kejam dari Orang Kafir

Orang munafik lebih jahat/kejam dari orang kafir, meski keduanya sama saja dalam kekafiran, akan tetapi kelebihan orang munafik ialah menipu, menyesatkan dan mungkin bisa menyusup di barisan muslim. Maka dari itu, mereka lebih membahayakan. Tanda-tanda orang munafik dan sifatnya yakni:

  • Penyakit hati (dapat merusak hati manusia)
  • Membuat kerusakan di muka bumi
  • Menuduh orang beriman bodoh 
  • Suka permusuhan dan berbuat dosa
  • Setia pada orang kafir dan mengintai orang beriman
  • Menipu, riya', dan malas beribadah
  • Berhukum pada thigut (berhala)
  • Membuat kerusakan di antara orang-orang beriman
  • Berdusta, menakut-nakuti, dan membenci orang muslim
  • Menyalahkan orang yang benar, mereka tidak puas jika keinginannya tidak tercapai
  • Menyuruh kepada kemungkaran dan melarang yang baik
  • Berkhianat dan mengingkari janji
  • Menyalahkan, mengejek orang beriman
  • Mengajak untuk meninggalkan jihad
  • Merusak orang beriman

4. Kelompok Orang Maksiat

Definisi orang maksiat ialah mereka yang beriman dan mengatakan kalimat dua syahadat, namun tidak melaksanakan kewajiban agama Islam. Terkadang di antara mereka ada yang lebih banyak mengerjakan maksiat, ada pula yang sedikit, dan ada pula yang imbang antara maksiat dan kebaikan, ini yang banyak terjadi di masyarakat.

Orang Muslim Tidak Terbebas dari Kemaksiatan

Orag-orang muslim tidak bebas dari melakukan perbuatan maksiat. Dalam hadits dikatakan: “Semua manusia bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah itu ialah orang yang bersalah lalu bertaubat.” Dijelaskan bahwa manusia diciptakan Tuhan cenderung berbuat baik dan berbuat maksiat, namun diharapkan seorang muslim agar selalu menjaga ketaatan dan terhindar dari kemaksiatan. Allah swt berfirman:

Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam; 7-10).

Jika terjerumus dalam maksiat, maka seorang muslim harus cepat bertaubat, melepaskan diri dari kemaksiatan dan berserah diri kepada Allah swt.

Sebab-sebab Kemaksiatan

Mengapa seorang muslim berbuat maksiat terhadap perintah Islam sedangkan dia beriman kepada Allah, rasul-Nya, dan hari kiamat, dan orang yang beriman percaya maksiat itu menimbulkan kemurkaan dan siksaan Allah ? Jawabannya yakni karena iman yang lemah dalam hati/jiwanya, karena itulah mereka berbuat maksiat, mudah ditipu, tertipu oleh setan. Mereka suka dengan kelezatan duniawi yang diharamkan tanpa memikirkan balasan yang akan mereka terima. 

Ketidaktahuan Orang yang Berbuat Maksiat

Orang yang berbuat maksiat itu juga bisa karena mereka tidak tahu (tidak berilmu), sehingga mereka tidak taat kepada Allah swt. Allah berfirman: “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat. Taubat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa; 17). Para mujahid dan orang-orang ahli ilmu mengatakan bahwa setiap orang yang tidak taat kepada Allah mungkin karena kesalahan (tidak sengaja) atau sengaja, jika mereka tidak tahu (akan perbuatannya) maka Allah mengampuninya.

Mencegah Kemaksiatan
 
Memang setiap jika ada kecenderungan berbuat maksiat. Allah swt berfirman:

“…dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syam; 7-8).

Setiap manusia terdapat bibit penyakit mekaksiatan yang dapat membahayakan hati dan mungkin juga dikalahkan oleh hati, selama diisi dengan keimanan. Tetapi jika imannya lemah, maka kuman penyakit yang telah ada di dalam hati itu bisa berkembang hingga masuk ke anggota tubuh. Dalam hal ini, setiap ada kesempatan untuk bermaksiat, maka tertariklah seluruh anggota inderanya untuk berbuat maksiat, hingga lupa kepada Allah swt.

Hal-hal yang dapat menghambat kemaksiatan yakni dengan meningkatkan keimanan dan ilmu pengetahuan yang benar di jalan Allah, bergaul dengan orang-orang yang baik dan mengajak ke jalan Allah sehingga ada benteng kuat yang melindungi mereka dari kemaksiatan. Seorang muslim juga tidak boleh memandang remeh dosa-dosa meskipun itu dosa kecil.

 Sikap Pendakwah terhadap Orang yang Maksiat

Seorang pendakwah tak kala melihat orang yang berbuat maksiat atau kesalahan, hendaknya memandangnya dengan penuh kasih sayang, seakan-akan seperti orang yang berdiri di pinggir jurang yang dalam sekali di saat malam gelap gulita. Mereka khawatir akan jatuh, maka pendakwah harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkannya dari kehancuran. Pada akhirnya mereka itu melampaui batasnya walaupun maksiat merupakan hak mereka juga. Pendakwah tidak boleh mencela dan menghinanya dan tidak pula berbangga-bangga atasnya karena ketaatannya. Akan tetapi, hendaknya pendakwah tidak membesar-besarkan pelanggaran syariat walaupun ia (pendakwah) marah akan pelanggaran ini.

KESIMPULAN
Melihat dari yang telah dipaparkan, maka kesimpulan yang dapat diambil yakni mitra dakwah ialah seluruh umat manusia, tidak memandang jenis, suku, ras, budaya, ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya. Para da'i tidak boleh menyerah dalam dakwahnya, meskipun mitra dakwah yang dihadapinya terdiri dari beberapa golongan.

Adapun golongan-golongan mitra dakwah menurut Abdul Karim Zaidan yakni terdiri dari para kaum elit yang memiliki kekuasaan, mayoritas umat atau kelompok manusia yang di bawah kepemimpinan penguasa, orang-orang munafik, dan orang-orang maksiat.

Maka, pendakwah harus menguasai materi dakwahnya berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Pendakwah harus bisa menghadapi mitra dakwahnya, dan dituntut untuk mampu menyampaikan pesan dakwah yang disampaikan, sehingga bisa mempengaruhi semua umat manusia dan mengajak mereka dari jalan kegelapan menuju jalan terang-benderang, yakni agama Islam.

ANALISIS 

Salah satu faktor penting untuk menunjang sukses dakwah adalah memahami mitra dakwah (al-mad’u). Pada dasarnya mitra dakwah sendiri menyangkut seluruh umat manusia dengan heterogenitasnya yang tanpa batas. Tetapi, untuk memudahkan atau mengefektifkan pesan dakwah, maka, mitra dakwah itu harus dikenali masing-masing golongannya.

Kitab Ushulu al-Da’wah karya Abdul Karim Zaidan, telah membagi mitra dakwah menjadi empat golongan. Pertama, golongan pemimpin. Mereka ini memiliki kekuasaan atau pengambil kebijakan. Golongan ini memiliki pengaruh yang kuat kepada masyarakat yang dipimpinnya. Golongan ini sangat mewarnai pola pikir masyarakatnya. Kedua, golongan masyarakat (rakyat) biasa. Mereka ini berada di bawah pengaruh penguasa. Secara kuantitas (jumlah) mereka jauh lebih banyak. Mereka ini disebut sebagai kelompok orang yang beriman.

Ketiga, golongan munafik. Golongan yang tidak bisa dijadikan rujukan, karena apa yang diucapan berlawanan dengan hatinya. Golongan munafik ini disamakan dengan golongan yang suka menonjolkan diri atau riya (pamer). Keempat, golongan maksiat. Mereka menerima pesan dakwah, tetapi karena lemahnya iman, mereka mudah tergelincir kepada hal-hal maksiat.

Menggolongkan mitra dakwah antara penguasa dan rakyat biasa, antara munafik dan maksiat, tidaklah salah. Tetapi, sesuai dengan heterogenitas umat manusia, tidaklah cukup pembagian golongan mitra dakwah tersebut, karena masyarakat luas memiliki strata sosial yang beragam, dari sosial ekonomi, pendidikan, budaya, politik dan lain sebagainya.

Tidak semua yang kaya berkuasa, yang miskin menjadi rakyat jelata. Tidak semua terpelajar memimpin, yang tidak terpelajar dipimpin. Begitu juga dengan golongan munafik dan golongan lemah iman, karena kedua sifat itu bisa melekat kepada siapa pun, baik bagi penguasa maupun rakyat biasa, baik bagi orang kaya maupun orang miskin, baik bagi terpelajar (intelektual) maupun yang awam.

Menurut Muhammad al-Bayanuni dalam kitabnya al-Madkhal ila 'ilm al-Dakwah membagi mitra dakwah menjadi dua yaitu :  


1.      أمة الاجابة Ummatul Ijabah, yaitu mitra dakwah yang menerima dan merespons dakwah. Golongan ummatul ijabah dibagi menjadi tiga, yaitu:

a.   سابق بالخيرات

Pecinta kebaikan atau orang-orang soleh dan bertaqwa. Mereka yang lebih dahulu berbuat baik, mengerjakan syariat Islam sesuai al-Qur’an dan hadits, serta jarang melakukan kesalahan.
b.   ظالم لنفسه
Golongan yang mendzolimi dirinya sendiri. Kelompok ini meninggalkan kewajiban dalam Islam dan banyak melakukan maksiat.
c.   مقتصد
Yakni golongan mitra dakwah yang imannya masih labil.
2.     أمة الدعوة  Ummatud Dakwah, yaitu mitra dakwah yang hanya menerima dakwah tetapi tidak merepons dakwah tersebut. Mereka terdiri dari:
a.     Ateis / Pembantah, yaitu golongan yang mengingkari adanya Allah.
b.     Orang-orang Musyrik.
·    Musyrik Asli, yakni orang yang hidup dalam kekufuran.
·    Musyik Murtad, yakni orang Islam yang kembali ke agama asalnya (bukan Islam).
c.   Ahli Kitab, yaitu orang-orang yang tidak beriman kepada Rasulullah, seperti orang Yahudi, Nasrani yang terjerumus dalam kesyirikan. Mereka berpegang teguh pada Taurat dan Injil.
d.   Orang Munafik, yaitu orang yang mengatakan tidak sesuai dengan hatinya. Mereka berbuat keonaran, memata-matai orang muslim dan berkata dusta.

Menurut Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani dalam bukunya al-Hikmatu fi al-Da’wah Ilallah Ta’ala menjelaskan bahwa mitra dahwa dilihat dari beberapa sudut, yakni:

Dari sudut ideologi, mereka ada yang ateis, musyrik, Yahudi, Nasrani dan munafik. Ada juga yang muslim namun masih membutuhkan bimbingan sebab terkadang mereka melakukan maksiat.

Dari segi intelektualitas, status sosial, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Ada atasan, ada bawahan; ada yang berpendidikan; ada yang buta huruf; ada yang kaya, ada yang miskin; ada yang sehat, ada yang sakit; ada yang Arab, ada juga yang non Arab.

Sementara itu, menurut Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. dalam Ilmu Dakwah, dari aspek sosio-psikologis, mitra dakwah bisa dilihat dari unsur jenis kelamin, usia (anak-anak, remaja, dewasa, orang tua), tingkat kecerdasan, jenjang pendidikan, pemikiran keagamaan, pengalaman keagamaan, sikap keagamaan, kepribadian, dan motivasi.

Dari pemaparan di atas, maka, tidak salah bagi para dai untuk membuat kategori mitra dakwah dari berbagai segi, sesuai dengan pesan dakwah yang akan disampaikan. (*)


Comments

  1. terima kasih informasinya ....
    sangat membantu dalam memahami dasar2 dalam berdakwah di dalam masyarakat....

    ReplyDelete
  2. Tulisannya bagus, mengkaji kitab dengan baik ☺ Terimakasih sudah share ilmu bermanfaat ini.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, sangat membantu sekali untuk memahami dasar2 berdakwah dalam masyarakat, terimakasih sudah share materi ini 😊

    ReplyDelete
  4. Suhhanallah, ya salam.. Jayyid

    ReplyDelete
  5. Sangat bermanfaat untuk bahan diskusi... izin share ya mbak.

    ReplyDelete
  6. الله أكبر، أطلب هذه المقالة

    ReplyDelete
  7. SubhanAllah sangat bermanfaat. Tulisan bagus dan rapi. Cocok buat bahan diskusi nih. Terima kasih yaaa.... :)

    ReplyDelete
  8. Terimakasih untuk tulisannya, rapi dan jelas, sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas mitra dakwah.

    ReplyDelete
  9. Semoga bermanfaat untuk menambah khazanah keilmuan tentang dakwah...

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah jadi lebih paham Kaidah kaidah dalam berdakwah ..terima kasih atas tulisan yang begitu detail dan runtut sehingga mudah di pahami

    ReplyDelete
  11. Bagus mbak. Alhamdulillah bisa dijadikan referensi untuk materi perkuliahan khususnya bagi yang ingin memahami dunia dakwah

    ReplyDelete
  12. sangat menarik , dan mudah di pahami
    saya punya pertanyaan ,menyinggung soal hak mitra dakwah yg "seorang dai harus datang menemui dan mengajak mereka ke jalan Allah. ". di zaman modern ini saya pernah mendengar pendakwah yg mempunyai "tarif" tersendiri untuk berdakwah mungkin saja dianggap ajang bisnis , apakah hal itu masih di anggap wajar menerima upah ketika menjadi mitra dakwah terkenal?

    ReplyDelete
  13. Bagus sekali, merujuk ilmu dakwah dari kitab2 dari ilmuan islam. Bravo!!

    ReplyDelete
  14. Bagus sekali , tetap smgt smg bermanfaat ....
    Buat km smg sukses & tercapai apa yg dicita citakan...
    Aamiiin Yaarobbal'aalamiin.

    ReplyDelete
  15. Subhaanallah bangat
    Semangat terus Mbak Sov..
    Selamat Berkarya Dan Semoga Lahir Buku "yg berkaitan dgn Dakwah "Nanti
    امين اللهم امين يا الله
    الفاتحة

    ReplyDelete
  16. Jika kita bicara tentang mitra dakwah memang tidak bisa dibatasi dari segi mana pun. Semoga para dai dan calon dai bisa lebih memahami dahulu mitra dakwahnya sehingga tujuan dakwah itu tercapai.. amar ma’ruf nahi mungkar.

    ReplyDelete
  17. Artikel ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh para pembaca dari berbagai kalangan, sehingga ilmu dakwah yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Ringan dan bermanfaat. Terima kasih.

    ReplyDelete
  18. Menambah wawasan baru, ditunggu karya selanjutnyaaaaaaaaaa

    ReplyDelete
  19. Jadi tahu siapa saja mitra dakwah bagi kita yg baru belajar tentang dakwah, termkasih smoga bermanfaat

    ReplyDelete
  20. Over alll... keren dan menarik sekaliii❤❤❤

    ReplyDelete
  21. Wah.. jadi gitu ya kak.. ada pembagian2 gitu mitra dakwah. Bagus banget sharing ilmunya. Kalo sudah dipeta-petakan mitra dakwah dari karakteristiknya kan jadi tau gitu gimana ngadepin masing-masing mitra dakwah yah... sukses kak 😊

    ReplyDelete
  22. Terima kasih mbak sangat membantu tugas kuliah saya, semangat terus mbak
    .
    #SalamAksara

    ReplyDelete
  23. maasyaAllah luar biasa penjelasan2nya. semoga bermanfaat untuk penulis juga pembaca

    ReplyDelete
  24. Mitra dakwah sesungguhnya tidak bisa dibatasi. Semakin berkembangnya zaman, maka semakin beragam pula sifat manusia. Semoga kita bisa meneladani Rasululullah dalam berdakwah. Semangat para calon da'i

    ReplyDelete
  25. Alhamdulillah sangat menarik penjelasannya dan bermanfaat.

    ReplyDelete
  26. Alhamdulillah sangat menarik penjelasannya dan bermanfaat.

    ReplyDelete
  27. Wah ternyata sudah ada terjemahnya, terima kasih sangat menambah wawasan dan membantu saya dan teman2 untuk memahami mitra dakwah

    ReplyDelete
  28. Bisa menjadi rujukan materi pembelajaran tentang dakwah, thank you in advance

    ReplyDelete
  29. Mitra dakwah harusnya tak terbatas, para dai harus siap menghadapi mitra dakwah dari golongan mana pun .. Saya kira hanya Rasulullah yg bisa menghadapi semua golongan mitra dakwah, semoga kita bisa menyontoh beliau dalam berdakwah.

    ReplyDelete

Post a Comment