KARAKTERISTIK MITRA DAKWAH (Kitab al-Usul ad-Da’wah karya Abdul Karim Zaidan)
Siapakah Mitra Dakwah itu?
Mitra dakwah ialah seluruh umat manusia yang
diajak ke jalan Allah swt, sebab agama Islam yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad merupakan agama yang kekal (terakhir). Allah mengutus Nabi Muhammad
saw untuk seluruh umat manusia. “Katakanlah, wahai
manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullah untuk kamu sekalian” (QS.
Al-A’raf; 157). “Dan
tidak kami utus engkau melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa
kabar gembira dan peringatan.” (QS. As-Saba’; 26).
Mitra dakwah itu umum, seluruh umat manusia,
dan tidak terbatas atau tidak terkecuali siapa pun. Seluruh manusia yang
berbicara tentang Islam, diharuskan untuk mempercayai dan mematuhi selama dia
mukallaf, baligh (dewasa), berakal, tidak peduli jenis, golongan (kelompok),
warna kulit, profesi, wilayah, laki-laki, perempuan atau sebaliknya dari
perbedaan antar manusia. Seperti contoh orang-orang yang beriman kepada Nabi
Muhammad saw, yakni bangsa Arab seperti Abu Bakar, orang Negro seperti Bilal,
orang Romawi seperti Suhaib, orang Farsi seperti Sulaiman, wanita seperti
Khadijah, anak-anak seperti Ali bin Abi Thalib, orang kaya seperti Ustman bin
Affan, dan orang tidak mampu seperti Umar.
Setiap juru dakwah harus memahami dakwahnya dan
berusaha dalam menyampaikannya kepada seluruh umat manusia. Akan tetapi, hal
itu tidak boleh bertentangan dengan dimulainya dakwah, yakni dari kaum terdekat
(keluarga), kemudian juru dakwah mengambil mitra dakwah yang jauh. Di dalam
Al-Qur’an disebutkan:
“Dan
berilah peringatan kepada kaum yang terdekat (keluarga).” (QS.
Asy-Syu’ara; 214).
“Hidarkanlah
dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Yang dimaksud dari menghindarkan keluarga dari
api neraka ialah dengan mengajak ke agama Islam, menaati perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya.
Hak-Hak Mitra Dakwah
Hak sebagai mitra dakwah yakni ditemui dan diajak. Artinya, seorang dai harus datang menemui dan mengajak mereka ke jalan Allah. Pendakwah tidak boleh hanya diam duduk di rumahnya atau menanti kedatangan mereka. Itulah yang paling utama yang dilakukan oleh Rasulullah saw, beliau mendatangi kaum Quraisy dan mengajak mereka (agar menerima Islam), Rasulullah saw pergi ke luar kota untuk menemui suku-suku di tempat perkemahan mereka pada musim haji, Rasulullah saw juga pergi menemui dan berdakwah kepada setiap orang yang datang ke Makkah.
Dalam berdakwah, pendakwah hendaknya meniru
jejak Rasulullah saw, dengan mengunjungi tempat-tempat dan desa-desa mitra
dakwahnya. Alangkah baiknya jika para pendakwah selalu bertebaran di setiap
lorong desa untuk menyampaikan dakwahnya.
Jangan Menghina Orang
Seorang pendakwah tidak boleh menganggap sepele
keadaan siapa pun atau menghina orang lain kemudian tidak mengajaknya kepada
kebaikan/tidak menyampaikan dakwah kepadanya, karena di antara hak seluruh
manusia itu ialah menerima ajakan kebaikan/didakwahi. Terkadang hal yang tidak
dilakukan seorang pendakwah akan menjadi beban baginya bahkan merupakan beban
berat baginya di hadapan Allah swt untuk pengabdiannya (da'i) menyebarkan dan
menolong agama Allah dan menyuruh manusia kepada agama Allah.
Kewajiban Mitra Dakwah
Mitra dakwah berkewajiban untuk memenuhi
seruan, ajakan, dan memperkenankan dakwah. Sebab pendakwah mengajak pada
kebaikan dan kebenaran. Akan tetapi, sikap manusia berbeda-beda dalam
menanggapi dakwah. Ada yang cepat menerima kebenaran, ada pula yang lamban, ada
juga di antara mereka.
Setelah mendapatkan petunjuk untuk menerima
Islam, kewajiban mitra dakwah juga harus menunaikan apa yang diperintahkan
agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya menyembah Allah swt
sesuai dengan perintah di Al-Qur’an dan hadits, sehingga dalam menjalankan
perintah-Nya tidak ada yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
GOLONGAN MITRA DAKWAH
Di setiap kelompok masyarakat selalu ada
seorang pemimpin yang mempunyai kekuasaan yang berpenguh terhadap masyarakat.
Merekalah kelompok penerima dakwah yang disebut dalam Al-Quran sebagai Al-Mala’
(kaum elit). Ada pula kelompok masyarakat pada umumnya (orang biasa) yang
dipimpinnya atau yang di bawah pengaruh mereka. Kelompok ini termasuk golongan
kedua penerima dakwah. Golongan ini mudah menerima Islam, dan Islam berkembang
di hatinya sehingga mereka menjadi orang-orang yang beriman.
Golongan penerima dakwah yang ketiga ini,
mereka yang hanya memamerkan keimanannya karena riya’ atau nifaq, merekalah
orang-orang yang munafik. Terakhir, orang yang menerima Islam namun
ke-Islamannya masih lemah, belum menguasai jiwanya, sehingga mereka tergelincir
pada kemaksiatan. Mereka lah kelompok keempat penerima dakwah, yakni
orang-orang yang maksiat. Berikut pemamarannya:
1. Kelompok Kaum Elit
(Penguasa)
Menurut para ahli tafsir, orang-orang elit itu disebut
juga sebagai orang-orang yang mengawasi seperti pemimpin, kepala-kepala, dan
orang-orang besar (bangsawan). Merekalah orang-orang yang menonjol dalam suatu
kelompok dan kerabatnya, mereka mempunyai kekuasaan dan dianggap sebagai
penguasa atau pemimpin.
Penguasa
dan Dakwah
Sifat mayoritas para penguasa di setiap kaumnya
yakni ini selalu menentang ajakan (dakwah) kepada Allah swt dan menolak ajakan
Rasulullah saw menuju Allah swt. Mereka itulah yang memimpin perlawanan,
mengutuk ajakan kepada Allah swt, mereka juga berbohong, memfitnah,
tuduhan-tuduhan palsu, bahkan mereka menuduh Rasulullah itu sesat. Allah
berfirman:
“Tatkala
kami utus penasihat-penasihat (rasul) ke dalam sebuah negeri, berkata
orang-orang kayanya: “Kami ingkar akan apa-apa yang kamu bawa itu.” Dan lagi
katanya, “kami mempunyai harta dan anak terlebih banyak dari padamu, sebab itu
tiadalah kami akan disiksa.” (QS. Saba’; 35-36).
Dalam ayat tersebut, Allah swt menghibur
Nabi-Nya seraya memerintahkan kepadanya agar mengambil pelajaran dari para
rasul yang telah mendahuluinya, dan Allah memberitahukan kepadanya bahwa tidak
sekali-sekali Dia mengutus seorang nabi ke suatu penduduk negeri, melainkan
penduduk negeri itu mendustakannya. (Tafsir Ibnu Katsir, III/540).
Allah swt berfirman tentang Nabi Nuh: “Sesungguhnya
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku
sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya".
Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa
azab hari yang besar (kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata:
"Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata".
Kaum elit menentang dakwah Nabi Nuh dengan
mengatakan bahwa Nabi Nuh dalam kesesatan yang nyata. Inilah sifat yang paling
jahat untuk menghalangi dakwah, yakni dengan menyatakan yang benar itu salah
dan sesat.
Kaum penguasa Quraisy pun memiliki sifat yang
sama dalam menghadapi dakwah Rasulullah saw. Mereka melemparkan tuduhan palsu
bahkan kadang mengganggu Rasulullah dalam melaksanakan dakwahnya.
Sebab-sebab Permusuhan Kaum Elit dalam Ajakan
Menuju Allah.
i.
Sombong
Sombong merupakan perbuatan tercela
dan penyakit kronis yang menetap di dalam hati namun pengaruhnya dapat terlihat
dalam bentuk sikap atau perbuatannya. Pada intinya, orang sombong tidak mau
menerima kebenaran dan tidak mau mengakui kelebihan orang yang berbuat baik.
Mereka menganggap diri mereka lebih baik, sehingga tidak mau bersama-sama dan
mengikuti orang lain.
Terkadang, sifat sombong juga
diikuti dengan iri, maka bertambahlah sifat buruknya, terlindung dari kebenaran
dan ingin memusuhi orang lain. Allah berfirman.
“Dan mereka mengingkarinya karena
kedzaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini kebenarannya.” (QS. An-Naml; 14). Fir’aun dan
kaumnya mengingkari kenabian Nabi Musa namun jiwa mereka meyakininya. Sifat
sombong kepada Nabi Musa inilah yang menyebabkan mereka ingkar.
ii.
Cinta Kekuasaan dan Kemegahan
Kaum elit mencintai kekuasaan dan
kemegahan dan ingin menguasai banyak orang, maka dari itu, mereka menentang
setiap ajakan (dakwah). Mereka menganggap hal tersebut dapat menghapus
kedudukan mereka di tengah-tengah masyarakat. Mereka tidak mau dianggap seperti
orang lain. Mereka menanggap dengan menerima ajakan untuk menyembah Allah, maka
kekuasaan dan kemegahan mereka akan lenyap. Dalam kisah Nabi Nuh Allah
berfirman:
“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir
di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti
kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan
kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum
pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami
yang dahulu.”
(QS. Al-Mu’minun; 24).
Dijelaskan, untuk mempertahankan
kekuasaan mereka, para pemuka mengatakan kepada kaumnya: Sesungguhnya Nuh itu
dengan dakwahnya ingin menguasai dan memimpin kalian semua. Para pemuka ini
ingin tetap berkuasa dan mencegah orang-orang dari ajakan Nabi Nuh. Pada
hakikatnya, Rasulullah saw tidak ingin menjadi orang yang berkuasa, namun
hanya ingin berdakwah dan menjadi pemimpin (dalam dakwahnya), sedangkan para
pemimpin tetap berkuasa, akan tetapi bentuk kepemimpinan Rasulullah saw dalam
berdakwah tidak sama seperti orang-orang sombong.
iii.
Ketidaktahuan
Kaum elit tenggelam dalam
ketidaktahuan (kebodohan), mereka sendiri tidak sadar akan hal itu. Merekalah
orang yang tidak percaya pada Tuhannya. Mereka menolak dakwah Rasulullah saw,
bahkan Rasulullah dituduh sesat, bodoh, dan mempunyai fikiran yang lemah,
mereka melemparkan alasan-alasan palsu seperti mengatakan Rasulullah saw
hanyalah manusia. Para kaum elit beranggapan merekalah yang pantas menerima
wahyu dan risalah, karena harta, keluarga mereka banyak. Mereka anggap Rasul
mencoba menjauhkan mereka dari agama nenek moyang.
Kaum elit juga mengolok-olok orang
yang beriman dengan tuduhan tidak berilmu, maka dari itu mereka (orang-orang
beriman) mengikuti ajakan ke jalan Allah dan Rasulullah saw tanpa mengamati dan
menyaring terlebih dahulu. Para kaum elit tidak akan berbuat demikian karena mereka
menganggap diri mereka berkuasa, mengawasi, memahami, bijaksana dan berfikir
(berilmu pengetahuan).
Allah berfirman: “Maka berkatalah
pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu,
melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak
melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina
di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki
sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang
yang dusta". (QS. Hud: 27).
Mereka berkata kepada Nabi Nuh:
engkau bukan malaikat, bahkan hanya manusia biasa, bagaimana wahyu bisa sampai
kepadamu? Kemudian kami tidak melihat pengikutmu kecuali mereka yang rendah,
tidak ada orang-orang yang mulia dan pembesar seperti kamu di antara
pengikutmu. Semua tuduhan itu menunjukkan kebodohan mereka, jika mereka mau
berfikir niscaya mereka akan mengakui dan mengetahui bahwa rasul itu manusia,
sehingga bisa berbicara dengan mereka dan apa yang disampaikan dapat dipahami.
Sifat
Kaum Elit Pada Setiap Tempat dan Waktu itu Sama
Sifat dan akhlak kaum elit yang telah
diterangkan di Al-Qur’an Al-Karim yang ada di setiap masyarakat, di setiap
waktu dan tempat itu sama. Oleh karena itu, pertama mereka menentang dan berusaha
menghalangi setiap ajakan ke jalan Allah, dengan dorongan perasaan sombong,
cinta kedudukan dan kekuasaan, sehingga timbul rasa takut dalam diri mereka
jika dakwah itu berhasil, maka kekuasaan dan kedudukan mereka itu hilang. Di
setiap waktu dan tempat mereka selalu berusaha menentang dakwah, meski dakwah
itu membawa kebaikan dan mempererat hubungan dengan Tuhannya.
2. Kelompok Mayoritas Manusia
Yang dimaksud dengan mayoritas manusia adalah
orang banyak (publik), sebab kata ‘Jumhur’ diartikan ‘semua yang paling
banyak’, akan tetapi kaum elit tidak masuk dalam golongan ini, seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya. Kelompok mayoritas ini merupakan pengikut kaum
elit/para penguasa. Mereka terdiri dari orang-orang tidak mampu, lemah, yang
memiliki pekerjaan yang berbeda-beda.
Kaum
Mayoritas Lebih Cepat Menerima Dakwah
Kaum mayoritas ini lebih cepat menerima
kebenaran dan mengikuti Rasulullah saw dibanding kaum yang lain. Mereka percaya
dan beriman terlebih dahulu kepada para rasul.
Herkules bertanya kepada Abu Sofyan saat mereka
bertemu di Syam, Herkules mendengar bahwa dia (Abu Sofyan) berasal dari Makkah,
maka Herkules bertanya tentang kabar Rasulullah saw. “Apakah yang
mengikutinya terdiri dari orang-orang terhormat atau orang-orang yang lemah?”
Abu Sofyan menjawab: “Bahkan orang yang
lemah”. Herkules menjawab: “Kalau demikian
mereka itu pengikut Rasul.”
Yang menjadi pengikut Rasulullah saw adalah
orang biasa saja seperti yang telah dibahas tentang tanggapan kaum elit
terhadap Nabi Nuh. Mereka berkata “dan tiada kami lihat
orang yang mengikuti engkau melainkan orang hina.”
Penjelasan
Cepatnya Kaum Mayoritas Menerima Kebenaran
Kelompok mayoritas lebih cepat menerima ajakan
ke jalan Allah sebab mereka tidak mempunyai sifat seperti para kaum elit yang
terlalu cinta dengan kekuasaan yang menyebabkan mereka sombong. Penjelasan
Al-Qurthubi dalam tafsirnya:
“Sebenarnya kesombongan dan cinta kekuasaan,
tenggelam dalam kemewahan itu tidak dapat dipisahkan dari sifat kaum elit, oleh
karena itu setiap usaha untuk menghapusnya akan sulit dan seterusnya,
menyebabkan mereka tidak mau menerima kebenaran karena mata hatinya tertutup,
sehingga terdorong untuk memusuhi kebenaran.”
Kemungkinan
Kaum Mayoritas Terpengaruh oleh Kaum Elit
Meskipun kaum mayoritas cepat menerima
kebenaran disbanding golongan yang lain, dan peluang untuk beriman lebih besar
sebab mereka yang suci dan bersih, namun kemungkinan mereka dapat terpengaruhi
dan tertipu karena janji dan bujukan kaum elit, sehingga mereka mengikuti
kesesatan dan kebohongan seperti kaum Fir’aun. Allah swt berfirman:
“Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan
perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah
kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf; 54).
Dalam tafsir Ibnu Katsir yang dimaksud dengan
mempengaruhi adalah mempengaruhi akal mereka untuk diajak pada kesesatan
sehingga mereka mengikutinya.
Tampak di tangan Fir’aun ada segala-galanya, di
tangannya kekuasaan, pengikut yang banyak, harta kekayaan, jiwa kaumnya kosong
dari ilmu pengetahuan, petunjuk, pikiran, maka mudahlah mereka terjerumus ke
dalam tipuan dan menolak ajakan Nabi Musa as.
Mengapa
Kelompok Mayoritas Terpengaruh oleh Kaum Elit?
i.
Takut
Di tangan
pemimpin yang kafir ada kekuasaan, kekuatan, harta kekayaan, yang dapat
digunakan untuk menakuti/membujuk orang. Rasa takut ini dapat menjadikan
kelompok mayoritas menjadi putus asa untuk menyelamatkan diri mereka dari
penganiayaan.
ii.
Bujukan Harta dan Kenikmatan
Dunia.
Kaum elit
mempunyai itu semua dan memberikannya kepada kelompok mayoritas sehingga banyak
orang yang tunduk.
iii.
Keraguan
Kaum elit tidak
cukup dengan menggunakan kekuasaannya dalam menghalangi kelompok mayoritas untuk
mengikuti kebenaran, mereka juga menyebarkan isu-isu yang membuat mereka ragu.
Bentuknya banyak, kadang mereka melempar tuduhan bahwa pendakwah orang yang
gila, sesat, dan berbahasa kasar (nakal).
3. Golongan Orang Munafik
Golongan mitra dakwah yang ketiga yakni orang munafik. Munafik dalam istilah syariat merupakan sesuatu
yang tidak sesuai dengan apa yang terpendam dalam hati. Jika sesuatu yang
disembunyikannya itu kebohongan dengan dasar iman, maka hal itu dinamakan
munafik murni/asli. Kedudukan orang tersebut di hari kiamat akan dihukum sama
seperti orang kafir bahkan disiksa melebihi dari orang kafir. Orang-orang
munafik itu menipu dengan berpura-pura beriman. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang munafik itu
ditempatkan pada derajat yang paling bawah di neraka.” (QS.
An-Nisa; 145)
Jika yang disembunyikan itu bukan kekafiran
kepada Allah, kitab-Nya, dan Rasul-Nya, maka perbuatan itu hanya dianggap suatu
kemaksiatan saja.
Di Manakah Orang-orang Munafik itu?
Ketika ajakan kepada Allah swt mulai tersebar
di masyarakat kafir dan umat manusia masuk ke dalam agama Allah, kekuasaan
orang kafir sedikit demi sedikit hilang, kekuasaan pun berpindah ke tangan umat
Islam. Waktu inilah muncul orang-orang munafik, yang tidak menyatakan imannya
bersama orang yang beriman dan tidak bertahan dalam kekafiran secara jelas,
karena takut kepada umat Islam.
Dasar
Kemunafikan
Dasar kemunafikan yakni kekafiran dan pengecut.
Orang kafir yakni yang menyembunyikan kekufurannya, ada pun pengecut yakni yang
menjadikan orang-orang munafik untuk berbohong dari apa yang di dalam hatinya
tentang kekafiran. Maka tidak ada yang menjadi orang munafik kecuali orang yang
pengecut, yang semangatnya lemah, dan selalu mengadakan pertentangan secara
sembunyi-sembunyi. Ketika mereka bertemu dengan orang beriman, mereka
berpura-pura beriman dan mengatakan:
Kami telah beriman". Dan bila mereka
kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya
kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (QS.
Al-Baqarah; 14).
Orang Munafik Lebih Kejam dari Orang Kafir
Orang munafik lebih jahat/kejam dari orang
kafir, meski keduanya sama saja dalam kekafiran, akan tetapi kelebihan orang
munafik ialah menipu, menyesatkan dan mungkin bisa menyusup di barisan muslim.
Maka dari itu, mereka lebih membahayakan. Tanda-tanda orang munafik dan
sifatnya yakni:
- Penyakit hati (dapat merusak hati manusia)
- Membuat kerusakan di muka bumi
- Menuduh orang beriman bodoh
- Suka permusuhan dan berbuat dosa
- Setia pada orang kafir dan mengintai orang beriman
- Menipu, riya', dan malas beribadah
- Berhukum pada thigut (berhala)
- Membuat kerusakan di antara orang-orang beriman
- Berdusta, menakut-nakuti, dan membenci orang muslim
- Menyalahkan orang yang benar, mereka tidak puas jika keinginannya tidak tercapai
- Menyuruh kepada kemungkaran dan melarang yang baik
- Berkhianat dan mengingkari janji
- Menyalahkan, mengejek orang beriman
- Mengajak untuk meninggalkan jihad
- Merusak orang beriman
4. Kelompok Orang Maksiat
Definisi orang maksiat ialah mereka yang
beriman dan mengatakan kalimat dua syahadat, namun tidak melaksanakan kewajiban
agama Islam. Terkadang di antara mereka ada yang lebih banyak mengerjakan
maksiat, ada pula yang sedikit, dan ada pula yang imbang antara maksiat dan
kebaikan, ini yang banyak terjadi di masyarakat.
Orang
Muslim Tidak Terbebas dari Kemaksiatan
Orag-orang muslim tidak bebas dari melakukan
perbuatan maksiat. Dalam hadits dikatakan: “Semua manusia bersalah dan
sebaik-baik orang yang bersalah itu ialah orang yang bersalah lalu bertaubat.”
Dijelaskan bahwa manusia diciptakan Tuhan cenderung berbuat baik dan berbuat
maksiat, namun diharapkan seorang muslim agar selalu menjaga ketaatan dan
terhindar dari kemaksiatan. Allah swt berfirman:
“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya),
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya
beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang
yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam; 7-10).
Jika terjerumus dalam maksiat, maka seorang
muslim harus cepat bertaubat, melepaskan diri dari kemaksiatan dan berserah diri
kepada Allah swt.
Sebab-sebab
Kemaksiatan
Mengapa seorang muslim berbuat maksiat terhadap
perintah Islam sedangkan dia beriman kepada Allah, rasul-Nya, dan hari kiamat,
dan orang yang beriman percaya maksiat itu menimbulkan kemurkaan dan siksaan
Allah ?
Jawabannya yakni karena iman yang lemah dalam hati/jiwanya, karena itulah mereka
berbuat maksiat, mudah ditipu, tertipu oleh setan. Mereka suka dengan kelezatan
duniawi yang diharamkan tanpa memikirkan balasan yang akan mereka terima.
Ketidaktahuan Orang yang Berbuat Maksiat
Ketidaktahuan Orang yang Berbuat Maksiat
Orang yang berbuat maksiat itu juga bisa karena
mereka tidak tahu (tidak berilmu), sehingga mereka tidak taat kepada Allah swt.
Allah berfirman: “Sesungguhnya
taubat di sisi Allah hanyalah bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak
mengerti, kemudian segera bertaubat. Taubat mereka itulah yang diterima Allah.
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa; 17). Para mujahid
dan orang-orang ahli ilmu mengatakan bahwa setiap orang yang tidak taat kepada
Allah mungkin karena kesalahan (tidak sengaja) atau sengaja, jika mereka tidak
tahu (akan perbuatannya) maka Allah mengampuninya.
Mencegah
Kemaksiatan
Memang setiap jika ada kecenderungan berbuat
maksiat. Allah swt berfirman:
“…dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS.
Asy-Syam; 7-8).
Setiap manusia terdapat bibit penyakit
mekaksiatan yang dapat membahayakan hati dan mungkin juga dikalahkan oleh hati,
selama diisi dengan keimanan. Tetapi jika imannya lemah, maka kuman penyakit
yang telah ada di dalam hati itu bisa berkembang hingga masuk ke anggota tubuh.
Dalam hal ini, setiap ada kesempatan untuk bermaksiat, maka tertariklah seluruh
anggota inderanya untuk berbuat maksiat, hingga lupa kepada Allah swt.
Hal-hal yang dapat menghambat kemaksiatan yakni
dengan meningkatkan keimanan dan ilmu pengetahuan yang benar di jalan Allah,
bergaul dengan orang-orang yang baik dan mengajak ke jalan Allah sehingga ada
benteng kuat yang melindungi mereka dari kemaksiatan. Seorang muslim juga tidak
boleh memandang remeh dosa-dosa meskipun itu dosa kecil.
Sikap
Pendakwah terhadap Orang yang Maksiat
Seorang pendakwah tak kala melihat orang yang
berbuat maksiat atau kesalahan, hendaknya memandangnya dengan penuh kasih
sayang, seakan-akan seperti orang yang berdiri di pinggir jurang yang dalam
sekali di saat malam gelap gulita. Mereka khawatir akan jatuh, maka pendakwah
harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkannya dari kehancuran.
Pada akhirnya mereka itu melampaui batasnya walaupun maksiat merupakan hak
mereka juga. Pendakwah tidak boleh mencela dan menghinanya dan tidak pula
berbangga-bangga atasnya karena ketaatannya. Akan tetapi, hendaknya pendakwah
tidak membesar-besarkan pelanggaran syariat walaupun ia (pendakwah) marah akan
pelanggaran ini.
KESIMPULAN
Melihat dari yang telah dipaparkan, maka
kesimpulan yang dapat diambil yakni mitra dakwah ialah seluruh umat manusia,
tidak memandang jenis, suku, ras, budaya, ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya. Para da'i tidak boleh menyerah dalam dakwahnya, meskipun mitra dakwah yang dihadapinya terdiri dari beberapa golongan.
Adapun golongan-golongan mitra dakwah menurut
Abdul Karim Zaidan yakni terdiri dari para kaum elit yang memiliki kekuasaan,
mayoritas umat atau kelompok manusia yang di bawah kepemimpinan penguasa,
orang-orang munafik, dan orang-orang maksiat.
Maka, pendakwah harus menguasai materi
dakwahnya berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Pendakwah harus bisa menghadapi
mitra dakwahnya, dan dituntut untuk mampu menyampaikan pesan dakwah yang
disampaikan, sehingga bisa mempengaruhi semua umat manusia dan mengajak mereka
dari jalan kegelapan menuju jalan terang-benderang, yakni agama Islam.
ANALISIS
Salah satu faktor penting untuk menunjang sukses dakwah adalah memahami mitra dakwah (al-mad’u). Pada dasarnya mitra dakwah sendiri menyangkut seluruh umat manusia dengan heterogenitasnya yang tanpa batas. Tetapi, untuk memudahkan atau mengefektifkan pesan dakwah, maka, mitra dakwah itu harus dikenali masing-masing golongannya.
Kitab Ushulu al-Da’wah karya Abdul Karim
Zaidan, telah membagi mitra dakwah menjadi empat golongan. Pertama,
golongan pemimpin. Mereka ini memiliki kekuasaan atau pengambil kebijakan.
Golongan ini memiliki pengaruh yang kuat kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Golongan ini sangat mewarnai pola pikir masyarakatnya. Kedua, golongan
masyarakat (rakyat) biasa. Mereka ini berada di bawah pengaruh penguasa. Secara
kuantitas (jumlah) mereka jauh lebih banyak. Mereka ini disebut sebagai
kelompok orang yang beriman.
Ketiga, golongan munafik. Golongan yang tidak bisa
dijadikan rujukan, karena apa yang diucapan berlawanan dengan hatinya. Golongan
munafik ini disamakan dengan golongan yang suka menonjolkan diri atau riya
(pamer). Keempat, golongan maksiat. Mereka menerima pesan dakwah, tetapi
karena lemahnya iman, mereka mudah tergelincir kepada hal-hal maksiat.
Menggolongkan mitra dakwah antara penguasa dan
rakyat biasa, antara munafik dan maksiat, tidaklah salah. Tetapi, sesuai dengan
heterogenitas umat manusia, tidaklah cukup pembagian golongan mitra dakwah
tersebut, karena masyarakat luas memiliki strata sosial yang beragam, dari
sosial ekonomi, pendidikan, budaya, politik dan lain sebagainya.
Tidak semua yang kaya berkuasa, yang miskin
menjadi rakyat jelata. Tidak semua terpelajar memimpin, yang tidak terpelajar
dipimpin. Begitu juga dengan golongan munafik dan golongan lemah iman, karena
kedua sifat itu bisa melekat kepada siapa pun, baik bagi penguasa maupun rakyat
biasa, baik bagi orang kaya maupun orang miskin, baik bagi terpelajar
(intelektual) maupun yang awam.
Menurut Muhammad al-Bayanuni dalam
kitabnya al-Madkhal ila 'ilm al- Dakwah membagi
mitra dakwah menjadi dua yaitu :
1.
أمة الاجابة Ummatul Ijabah, yaitu mitra dakwah yang menerima dan
merespons dakwah. Golongan ummatul ijabah dibagi menjadi tiga, yaitu:
a.
سابق
بالخيرات
Pecinta kebaikan atau orang-orang
soleh dan bertaqwa. Mereka yang lebih dahulu berbuat baik, mengerjakan syariat
Islam sesuai al-Qur’an dan hadits, serta jarang melakukan kesalahan.
b.
ظالم
لنفسه
Golongan yang mendzolimi dirinya
sendiri. Kelompok ini meninggalkan kewajiban dalam Islam dan banyak melakukan
maksiat.
c.
مقتصد
Yakni golongan mitra dakwah yang
imannya masih labil.
2.
أمة الدعوة
Ummatud
Dakwah, yaitu mitra dakwah yang hanya menerima dakwah tetapi tidak merepons
dakwah tersebut. Mereka terdiri dari:
a.
Ateis / Pembantah, yaitu golongan
yang mengingkari adanya Allah.
b.
Orang-orang Musyrik.
·
Musyrik Asli, yakni orang
yang hidup dalam kekufuran.
· Musyik Murtad, yakni orang
Islam yang kembali ke agama asalnya (bukan Islam).
c. Ahli Kitab, yaitu orang-orang yang
tidak beriman kepada Rasulullah, seperti orang Yahudi, Nasrani yang terjerumus
dalam kesyirikan. Mereka berpegang teguh pada Taurat dan Injil.
d. Orang Munafik, yaitu orang yang
mengatakan tidak sesuai dengan hatinya. Mereka berbuat keonaran, memata-matai
orang muslim dan berkata dusta.
Menurut Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani dalam bukunya al-Hikmatu fi al-Da’wah Ilallah Ta’ala menjelaskan bahwa mitra dahwa dilihat dari beberapa sudut, yakni:
Dari sudut ideologi, mereka ada yang ateis,
musyrik, Yahudi, Nasrani dan munafik. Ada juga yang muslim namun masih
membutuhkan bimbingan sebab terkadang mereka melakukan maksiat.
Dari segi intelektualitas, status sosial,
kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Ada atasan, ada bawahan; ada yang
berpendidikan; ada yang buta huruf; ada yang kaya, ada yang miskin; ada yang
sehat, ada yang sakit; ada yang Arab, ada juga yang non Arab.
Sementara itu, menurut Prof. Dr. Moh. Ali
Aziz, M.Ag. dalam Ilmu Dakwah, dari aspek sosio-psikologis, mitra
dakwah bisa dilihat dari unsur jenis kelamin, usia (anak-anak, remaja, dewasa,
orang tua), tingkat kecerdasan, jenjang pendidikan, pemikiran keagamaan,
pengalaman keagamaan, sikap keagamaan, kepribadian, dan motivasi.
Dari pemaparan di atas, maka, tidak salah bagi para dai untuk membuat kategori mitra dakwah dari berbagai segi, sesuai dengan pesan dakwah yang akan disampaikan. (*)

terima kasih informasinya ....
ReplyDeletesangat membantu dalam memahami dasar2 dalam berdakwah di dalam masyarakat....
Tulisannya bagus, mengkaji kitab dengan baik ☺ Terimakasih sudah share ilmu bermanfaat ini.
ReplyDeleteAlhamdulillah, sangat membantu sekali untuk memahami dasar2 berdakwah dalam masyarakat, terimakasih sudah share materi ini 😊
ReplyDeleteSuhhanallah, ya salam.. Jayyid
ReplyDeleteSangat bermanfaat untuk bahan diskusi... izin share ya mbak.
ReplyDeleteBisa minta nomornya
Deleteالله أكبر، أطلب هذه المقالة
ReplyDeleteSubhanAllah sangat bermanfaat. Tulisan bagus dan rapi. Cocok buat bahan diskusi nih. Terima kasih yaaa.... :)
ReplyDeleteTerimakasih untuk tulisannya, rapi dan jelas, sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas mitra dakwah.
ReplyDeleteSemoga bermanfaat untuk menambah khazanah keilmuan tentang dakwah...
ReplyDeleteAlhamdulillah jadi lebih paham Kaidah kaidah dalam berdakwah ..terima kasih atas tulisan yang begitu detail dan runtut sehingga mudah di pahami
ReplyDeleteBagus mbak. Alhamdulillah bisa dijadikan referensi untuk materi perkuliahan khususnya bagi yang ingin memahami dunia dakwah
ReplyDeletesangat menarik , dan mudah di pahami
ReplyDeletesaya punya pertanyaan ,menyinggung soal hak mitra dakwah yg "seorang dai harus datang menemui dan mengajak mereka ke jalan Allah. ". di zaman modern ini saya pernah mendengar pendakwah yg mempunyai "tarif" tersendiri untuk berdakwah mungkin saja dianggap ajang bisnis , apakah hal itu masih di anggap wajar menerima upah ketika menjadi mitra dakwah terkenal?
Bagus sekali, merujuk ilmu dakwah dari kitab2 dari ilmuan islam. Bravo!!
ReplyDeleteBagus sekali , tetap smgt smg bermanfaat ....
ReplyDeleteBuat km smg sukses & tercapai apa yg dicita citakan...
Aamiiin Yaarobbal'aalamiin.
Subhaanallah bangat
ReplyDeleteSemangat terus Mbak Sov..
Selamat Berkarya Dan Semoga Lahir Buku "yg berkaitan dgn Dakwah "Nanti
امين اللهم امين يا الله
الفاتحة
Jika kita bicara tentang mitra dakwah memang tidak bisa dibatasi dari segi mana pun. Semoga para dai dan calon dai bisa lebih memahami dahulu mitra dakwahnya sehingga tujuan dakwah itu tercapai.. amar ma’ruf nahi mungkar.
ReplyDeleteArtikel ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh para pembaca dari berbagai kalangan, sehingga ilmu dakwah yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Ringan dan bermanfaat. Terima kasih.
ReplyDeleteMenambah wawasan baru, ditunggu karya selanjutnyaaaaaaaaaa
ReplyDeleteJadi tahu siapa saja mitra dakwah bagi kita yg baru belajar tentang dakwah, termkasih smoga bermanfaat
ReplyDeleteOver alll... keren dan menarik sekaliii❤❤❤
ReplyDeleteWah.. jadi gitu ya kak.. ada pembagian2 gitu mitra dakwah. Bagus banget sharing ilmunya. Kalo sudah dipeta-petakan mitra dakwah dari karakteristiknya kan jadi tau gitu gimana ngadepin masing-masing mitra dakwah yah... sukses kak 😊
ReplyDeleteTerima kasih mbak sangat membantu tugas kuliah saya, semangat terus mbak
ReplyDelete.
#SalamAksara
maasyaAllah luar biasa penjelasan2nya. semoga bermanfaat untuk penulis juga pembaca
ReplyDeleteMitra dakwah sesungguhnya tidak bisa dibatasi. Semakin berkembangnya zaman, maka semakin beragam pula sifat manusia. Semoga kita bisa meneladani Rasululullah dalam berdakwah. Semangat para calon da'i
ReplyDeleteAlhamdulillah sangat menarik penjelasannya dan bermanfaat.
ReplyDeleteAlhamdulillah sangat menarik penjelasannya dan bermanfaat.
ReplyDeleteWah ternyata sudah ada terjemahnya, terima kasih sangat menambah wawasan dan membantu saya dan teman2 untuk memahami mitra dakwah
ReplyDeleteBisa menjadi rujukan materi pembelajaran tentang dakwah, thank you in advance
ReplyDeleteMitra dakwah harusnya tak terbatas, para dai harus siap menghadapi mitra dakwah dari golongan mana pun .. Saya kira hanya Rasulullah yg bisa menghadapi semua golongan mitra dakwah, semoga kita bisa menyontoh beliau dalam berdakwah.
ReplyDelete